
Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah menutup perdagangan hari ini dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda tertekan seiring berlanjutnya penguatan greenback di pasar global.
Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Rabu (2/9/2026), rupiah mesti mengalami pelemahan sebesar 0,23% dan terperosot ke posisi Rp17.750/US$. Rupiah melemah 40 poin dibandingkan penutupan Selasa (1/9/2026) di posisi Rp17.710/US$,
Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah pun cukup konsisten berada di zona pelemahan dengan rentang Rp17.755-Rp17.780/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,08% ke posisi 99,759.
Penguatan tersebut melanjutkan kenaikan DXY sebesar 0,25% pada penutupan perdagangan Selasa kemarin.
Tekanan terhadap rupiah datang ketika pelaku pasar kembali memburu dolar AS sebagai aset aman menyusul memanasnya konflik antara AS dan Iran.
AS kembali melancarkan serangan udara terhadap sejumlah target di Iran pada Selasa waktu setempat. Eskalasi tersebut mendorong harga minyak melonjak lebih dari 4%, sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.
Konflik tersebut juga memicu aksi jual di pasar obligasi global. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menyentuh posisi tertinggi sejak Januari 2025, sedangkan yield obligasi Jepang tenor yang sama mencapai 3% untuk pertama kalinya dalam 30 tahun.
Tingginya imbal hasil obligasi AS meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar. Kondisi tersebut membuat ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, semakin terbatas.
Tekanan juga datang dari meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
Pelaku pasar kini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga pada September sebesar 68%, naik dari 35% sebelum pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole.
Warsh sebelumnya mengatakan The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila inflasi gagal mereda. Pernyataan tersebut memperkuat dugaan bahwa kenaikan suku bunga kembali diperlukan untuk mengendalikan tekanan harga.
Di tengah tekanan global tersebut, Komisi XI DPR RI bersama pemerintah dan Bank Indonesia (BI) telah menyepakati asumsi dasar ekonomi makro dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
Nilai tukar rupiah dalam RAPBN 2027 disepakati sebesar Rp17.500/US$.
Angka tersebut berada di dalam rentang proyeksi BI yang memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.300-Rp17.800/US$ pada 2027.
Selain nilai tukar rupiah, pertumbuhan ekonomi disepakati sebesar 6%, inflasi 2,5%, suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun 6,9%, serta defisit anggaran 2,4% atau Rp671,2 triliun.
Ketua Komisi XI DPR RI M. Misbakhun mengatakan penetapan asumsi tersebut telah mempertimbangkan kondisi perekonomian global dan domestik serta berbagai peluang dan risiko yang dapat memengaruhi perekonomian nasional.
(evw/evw)

















