
Jakarta, CNBC Indonesia — Penulis buku Rich Dad, Poor Dad, Robert Kiyosaki, mengungkapkan memiliki utang mencapai US$1,2 miliar atau sekitar Rp21,32 triliun (asumsi kurs Rp17.770). Namun, utang tersebut bukan seluruhnya menjadi kewajiban pribadi Kiyosaki, melainkan dimiliki kelompok investor properti yang melibatkan dirinya dan para mitranya.
Melansir Money Wise, mantan istri sekaligus mitra bisnis Kiyosaki, Kim Kiyosaki, menjelaskan utang tersebut terkait dengan kepemilikan sekitar 1.500 unit apartemen. Sementara itu, porsi utang yang menjadi tanggung jawab pribadi Kiyosaki disebut jauh lebih kecil dibandingkan angka US$1,2 miliar tersebut.
Angka tersebut sebelumnya disampaikan langsung oleh Kiyosaki ketika menjadi bintang tamu dalam podcast The Iced Coffee Hour. Saat ditanya secara langsung mengenai jumlah utangnya, Kiyosaki menjawab tanpa ragu bahwa dirinya memiliki utang sebesar US$1,2 miliar.
Alih-alih merasa khawatir, Kiyosaki justru menilai besarnya utang tersebut sejalan dengan filosofi keuangannya selama ini. Ia meyakini utang dapat digunakan secara strategis untuk membeli aset yang mampu menghasilkan pendapatan sekaligus mengalami kenaikan nilai.
Ketika ditanya apakah utang sebesar itu membuatnya takut gagal bayar, Kiyosaki justru tertawa. Menurut dia, perbedaan antara utang dalam jumlah kecil dan sangat besar terletak pada siapa yang akhirnya menanggung masalah ketika utang tersebut tidak dapat dibayar.
Kiyosaki menyebut alasan utama bank bersedia memberikan pinjaman dalam jumlah fantastis tersebut hanya dengan dua kata, yakni real estate. Menurutnya, investasi properti memang kerap membutuhkan leverage atau penggunaan utang untuk membeli dan memperbesar portofolio aset.
Filosofi tersebut bertolak belakang dengan pandangan keuangan konvensional yang mendorong masyarakat untuk segera terbebas dari utang. Kiyosaki bahkan mengatakan bahwa menurut prinsip yang diajarkan “rich dad”-nya, seseorang justru seharusnya memanfaatkan dana pinjaman untuk membeli aset produktif, bukan selalu menggunakan uang sendiri.
Kiyosaki mengaku terus membeli properti dengan memanfaatkan utang dan menyebut strategi tersebut dapat membantunya mengurangi beban pajak secara legal. Ia mengatakan dirinya saat ini memiliki hotel dan sekitar 15.000 properti sewa, yang menurutnya mampu menghasilkan banyak uang tanpa membayar pajak.
Strategi tersebut pada dasarnya memanfaatkan utang yang melekat pada aset untuk memperoleh manfaat finansial sekaligus pajak. Ketika investor membeli properti menggunakan pinjaman, pembayaran bunga pinjaman dalam kondisi tertentu dapat menjadi pengurang pajak meskipun properti tersebut tetap menghasilkan arus kas positif.
Investor juga dapat meminjam dengan menjadikan aset yang dimiliki sebagai jaminan dibandingkan menjual aset tersebut. Jika nilai properti meningkat, investor dapat memanfaatkan kenaikan ekuitas untuk memperoleh dana tanpa harus menjual properti dan berpotensi memicu pajak keuntungan modal.
Namun, strategi tersebut bukan berarti utang menjadi uang gratis karena kewajiban pinjaman tetap harus dibayar. Strategi leverage juga hanya dapat berjalan apabila aset yang dimiliki mampu menghasilkan pendapatan yang cukup untuk memenuhi pembayaran pinjaman.
Investasi properti memang dapat menjadi instrumen untuk mempertahankan sekaligus membangun kekayaan karena mampu memberikan pendapatan sewa, perlindungan terhadap inflasi, serta sejumlah manfaat pajak. Bahkan, properti disebut menyumbang hampir 25% dari portofolio keluarga family office pada umumnya.
Meski demikian, penggunaan utang dalam jumlah besar juga dapat memperbesar kerugian ketika kondisi pasar memburuk. Tanpa arus kas yang stabil dan pengalaman mengelola properti, penurunan pasar maupun kenaikan suku bunga dapat dengan cepat mengubah utang yang sebelumnya masih terkendali menjadi beban keuangan.
Kiyosaki sendiri tidak hanya mengandalkan properti dalam strategi membangun kekayaan. Ia juga dikenal sebagai pendukung investasi logam mulia dan Bitcoin yang menurutnya dapat menjadi pelindung nilai ketika inflasi menggerus daya beli mata uang.
Emas menjadi salah satu aset yang cukup menonjol dalam filosofi investasi Kiyosaki. Ia juga berulang kali mendorong investor untuk tidak hanya mengandalkan uang tunai dan saham, tetapi mempertimbangkan aset yang diyakini dapat mempertahankan nilainya ketika inflasi meningkat.
Meski memiliki pendekatan yang tidak konvensional, Kiyosaki mengatakan tujuan finansialnya bukan semata-mata memperkaya dirinya sendiri. Dalam profil Vanity Fair pada Agustus 2026, ia menggambarkan pendidikan finansial sebagai bagian dari misinya untuk membantu orang lain membangun kekayaan.
Pandangan tersebut mulai terbentuk setelah Kiyosaki bertemu futuris R. Buckminster Fuller. Ketika Kiyosaki mengatakan tujuannya adalah menjadi kaya, Fuller mendorongnya untuk memiliki tujuan yang lebih besar sehingga kemudian Kiyosaki mulai berfokus mengajarkan orang lain mengenai keuangan.
Bersama Kim Kiyosaki, ia kemudian menjalankan perusahaan pendidikan keuangan Money & You yang menggunakan permainan untuk mengajarkan konsep-konsep keuangan. Kiyosaki selanjutnya menciptakan permainan papan Cashflow sebelum menerbitkan buku Rich Dad, Poor Dad pada 1997.
Buku tersebut telah terjual lebih dari 44 juta kopi dan menjadikan Kiyosaki salah satu nama terbesar dalam dunia keuangan pribadi. Meski sejumlah pandangan investasinya menuai kritik, ia masih melihat dirinya sebagai seorang pengajar keuangan.
Namun, strategi Kiyosaki tidak serta-merta menjadi pendekatan yang harus diikuti seluruh investor. Properti, logam mulia, dan mata uang kripto tetap memiliki risiko, sementara penggunaan utang dalam jumlah besar dapat memperbesar keuntungan sekaligus kerugian.
Dengan demikian, pelajaran utama dari strategi Kiyosaki bukan semata-mata mengikuti jenis investasi yang dipilihnya. Investor justru perlu memahami bagaimana aset, pendapatan, dan utang dapat ditempatkan dalam rencana keuangan yang lebih luas sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing.
(mkh/mkh)

















