• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Likuiditas Perbankan Masih Ketat, Pertumbuhan Kredit Belum Merata

Likuiditas Perbankan Masih Ketat, Pertumbuhan Kredit Belum Merata

September 3, 2026
Heboh Utang Rp50 M Disomasi, Bank JTrust Buka Suara

Heboh Utang Rp50 M Disomasi, Bank JTrust Buka Suara

September 3, 2026
Orang RI Habiskan Rp640 T Buat Kesehatan, Asuransi Cover 5%

Orang RI Habiskan Rp640 T Buat Kesehatan, Asuransi Cover 5%

September 3, 2026
Ada Bursa Mineral, OJK Usul Anggaran Tambahan Rp 340,2 Miliar

Ada Bursa Mineral, OJK Usul Anggaran Tambahan Rp 340,2 Miliar

September 3, 2026
LPS Pastikan Dana Nasabah 13 BPR Tutup Cair Maksimal 5 Hari

LPS Pastikan Dana Nasabah 13 BPR Tutup Cair Maksimal 5 Hari

September 3, 2026
Asing Net Buy Rp1 Triliun, Kompak Borong Saham BMRI-BBNI

Asing Net Buy Rp1 Triliun, Kompak Borong Saham BMRI-BBNI

September 3, 2026
Terbongkar! Bos Startup Ini Akali Harga Saham Demi Cuan Besar

Terbongkar! Bos Startup Ini Akali Harga Saham Demi Cuan Besar

September 3, 2026
Transformasi Berjalan Mulus, Bisnis Kimia Farma (KAEF) Makin Membaik

Transformasi Berjalan Mulus, Bisnis Kimia Farma (KAEF) Makin Membaik

September 3, 2026
Restrukturisasi Obligasi PTPP Ditolak, Tenor Tak Jadi Diperpanjang

Restrukturisasi Obligasi PTPP Ditolak, Tenor Tak Jadi Diperpanjang

September 3, 2026
Video: Saham Big Caps Bikin IHSG Menguat 1%

Video: Saham Big Caps Bikin IHSG Menguat 1%

September 3, 2026
Mandiri Sekuritas Proyeksi Akhir Tahun IHSG Tembus 7.500, Tapi…

Mandiri Sekuritas Proyeksi Akhir Tahun IHSG Tembus 7.500, Tapi…

September 3, 2026
BI Guyur Insentif Likuiditas Rp446,5 T, Kredit Harus Mengalir ke UMKM

BI Guyur Insentif Likuiditas Rp446,5 T, Kredit Harus Mengalir ke UMKM

September 3, 2026
Nasib Bisnis Es Krim Saat Impor Bahan Baku-Ongkos Logistik Naik

Nasib Bisnis Es Krim Saat Impor Bahan Baku-Ongkos Logistik Naik

September 3, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Thursday, September 3, 2026
Business Review Asia
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Business Review Asia
No Result
View All Result
Home Lifestyle

Likuiditas Perbankan Masih Ketat, Pertumbuhan Kredit Belum Merata

1 hour ago
in Lifestyle
Likuiditas Perbankan Masih Ketat, Pertumbuhan Kredit Belum Merata
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Ekonom menyoroti kondisi likuiditas perbankan yang masih menjadi salah satu tantangan utama di tengah pertumbuhan kredit yang terus melaju. Meski penyaluran kredit industri perbankan tumbuh dua digit, pertumbuhannya dinilai belum merata karena masih ditopang kuat oleh segmen korporasi.

Head of Macroeconomics and Financial Market Research Bank Mandiri Diah Ayu Yustina mengatakan kinerja industri perbankan secara umum masih menunjukkan ketahanan yang kuat.

Berdasarkan data terakhir Juli 2026, pertumbuhan kredit perbankan tercatat mencapai 13,58% secara tahunan atau year-on-year (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan 12,7% pada bulan sebelumnya.

Di sisi lain, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) masih lebih moderat. Data hingga Juni 2026 menunjukkan DPK tumbuh 10,2% secara tahunan.

Kondisi tersebut turut tercermin dari rasio loan to deposit ratio (LDR) yang berada di kisaran 88%, menandakan kondisi likuiditas perbankan yang masih relatif ketat.

“Likuiditas juga masih menjadi isu utama tentunya, karena kita tahu beberapa bulan terakhir dengan rasio LDR yang meningkat,” ujar Diah dalam Mandiri Macro and Market Brief Q3 2026 secara virtual, Kamis (3/9/2026).

Dari sisi penghimpunan dana, pertumbuhan simpanan juga belum terjadi secara merata. Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), pertumbuhan simpanan yang cukup tinggi terutama berasal dari kelompok simpanan dengan nominal di atas Rp5 miliar.

Sementara itu, pertumbuhan simpanan pada kelompok nominal lainnya relatif datar atau cenderung mengalami perlambatan.

Ketimpangan juga terlihat pada pertumbuhan kredit berdasarkan segmen. Diah mengatakan pertumbuhan kredit masih didominasi oleh segmen korporasi yang tumbuh signifikan hingga sekitar 20%.

Sebaliknya, pertumbuhan kredit pada segmen konsumer dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih relatif melambat.

“Kalau kita lihat pertumbuhan kredit, segmentasinya masih sama, dominasinya masih oleh pertumbuhan kredit korporasi yang tumbuhnya cukup signifikan, cukup tinggi di 20%. Sementara pertumbuhan kredit di segmen consumer dan juga segmen UMKM itu relatif melambat,” kata Diah.

Dari sisi kualitas aset, kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tertinggi masih tercatat pada segmen UMKM dan ritel.

Meski demikian, Bank Mandiri melihat terdapat tanda-tanda stabilisasi kualitas aset dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut diharapkan sejalan dengan mulai membaiknya permintaan domestik sehingga pertumbuhan kredit ke depan dapat menjadi lebih merata.

“Kalau kita lihat di pergerakannya dalam beberapa bulan terakhir ini mulai ada stabilisasi. Jadi kita harapkan kondisi ekonomi terkait dengan permintaan domestik sudah mulai ada tanda-tanda perbaikan sehingga pertumbuhan kredit bisa lebih merata,” ujarnya.

Dian mengakui kondisi likuiditas perbankan sepanjang semester I-2026 menghadapi sejumlah tantangan, termasuk faktor eksternal.

Pada Mei dan Juni, misalnya, kinerja perdagangan Indonesia mencatat defisit. Kondisi tersebut kemudian diperberat oleh terjadinya aliran modal keluar atau capital outflow.

Selain faktor eksternal, implementasi kebijakan dari sisi moneter dan fiskal juga turut memberikan dampak terhadap kondisi likuiditas di dalam negeri.

Meski demikian, Bank Mandiri memproyeksikan kondisi likuiditas akan berangsur membaik ke depan.

Perbaikan tersebut diharapkan datang secara bertahap, terutama dengan adanya dukungan kebijakan pemerintah baik dari sisi fiskal maupun moneter.

“Kita memproyeksikan situasi akan mulai gradual, akan ada perbaikan terutama dari sisi likuiditas perbankan,” kata Dian.

Menurutnya, dukungan kebijakan tersebut diharapkan dapat memperkuat likuiditas perbankan dan pada akhirnya mendorong pertumbuhan kredit menjadi lebih baik serta lebih merata di berbagai segmen.

(fsd/fsd)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Is GESARA and NESARA About to Become a Reality?

Is GESARA and NESARA About to Become a Reality?

March 7, 2026
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

December 18, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Heboh Utang Rp50 M Disomasi, Bank JTrust Buka Suara

Heboh Utang Rp50 M Disomasi, Bank JTrust Buka Suara

September 3, 2026
Orang RI Habiskan Rp640 T Buat Kesehatan, Asuransi Cover 5%

Orang RI Habiskan Rp640 T Buat Kesehatan, Asuransi Cover 5%

September 3, 2026
Ada Bursa Mineral, OJK Usul Anggaran Tambahan Rp 340,2 Miliar

Ada Bursa Mineral, OJK Usul Anggaran Tambahan Rp 340,2 Miliar

September 3, 2026
Business Review Asia

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .