• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Pasar AS Masih Bergejolak, AI Tak Lagi Jadi Jaminan Saham Naik

Pasar AS Masih Bergejolak, AI Tak Lagi Jadi Jaminan Saham Naik

August 3, 2026
Bahlil Buka Suara soal Ekspor Nikel RI Tersendat Akibat LTJ

Bahlil Buka Suara soal Ekspor Nikel RI Tersendat Akibat LTJ

August 3, 2026
OJK Ketemu 100 Investor Global, Pede IHSG Akan Membaik

OJK Ketemu 100 Investor Global, Pede IHSG Akan Membaik

August 3, 2026
PM Thailand Tawarkan Suplai 36 Rantis Amfibi Lapis Baja ke Prabowo

PM Thailand Tawarkan Suplai 36 Rantis Amfibi Lapis Baja ke Prabowo

August 3, 2026
Purbaya Bantah Ajukan Diri Jadi Gubernur BI

Purbaya Bantah Ajukan Diri Jadi Gubernur BI

August 3, 2026
Purbaya Buka Suara Tambahan Anggaran K/L Rp900T: Tidak Semua Disetujui

Purbaya Buka Suara Tambahan Anggaran K/L Rp900T: Tidak Semua Disetujui

August 3, 2026
Momen Destry Ungkap Pengalaman Pertama Ikut KSSK

Momen Destry Ungkap Pengalaman Pertama Ikut KSSK

August 3, 2026
Ini Deretan Jurus OJK Jaga Stabilitas Sistem Keuangan

Ini Deretan Jurus OJK Jaga Stabilitas Sistem Keuangan

August 3, 2026
Bos LPS Blak-blakan Soal CIU BPR hingga Fenomena Makan Tabungan

Bos LPS Blak-blakan Soal CIU BPR hingga Fenomena Makan Tabungan

August 3, 2026
BEI Perbarui Notasi Khusus Saham, Kini Ada Penanda Free Float Kurang

BEI Perbarui Notasi Khusus Saham, Kini Ada Penanda Free Float Kurang

August 3, 2026
Cadangan Devisa Turun US Miliar hingga Akhir Juni, BI Buka Suara

Cadangan Devisa Turun US$11 Miliar hingga Akhir Juni, BI Buka Suara

August 3, 2026
Bos LPS Blak-blakan Soal CIU BPR hingga FenomenaMakan Tabungan

Bos LPS Blak-blakan Soal CIU BPR hingga FenomenaMakan Tabungan

August 3, 2026
Cadangan Devisa Turun US Miliar hingga Akhir Juli, BI Buka Suara

Cadangan Devisa Turun US$11 Miliar hingga Akhir Juli, BI Buka Suara

August 3, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Monday, August 3, 2026
Business Review Asia
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Business Review Asia
No Result
View All Result
Home News

Pasar AS Masih Bergejolak, AI Tak Lagi Jadi Jaminan Saham Naik

11 hours ago
in News
Pasar AS Masih Bergejolak, AI Tak Lagi Jadi Jaminan Saham Naik
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Pergerakan pasar keuangan Amerika Serikat (AS) masih dibayangi volatilitas setelah laporan keuangan emiten teknologi raksasa pendukung Akal Imitasi (AI) memicu lonjakan maupun penurunan tajam harga saham. Di saat yang sama, aksi jual di pasar obligasi yang dipicu sinyal terbaru dari Federal Reserve (The Fed) semakin menambah tekanan terhadap pasar saham.

Melansir The Wall Street Journal, pergerakan saham perusahaan teknologi menunjukkan hasil yang beragam setelah publikasi laporan keuangan kuartalan. Saham Microsoft melonjak tajam hingga mencatat kenaikan kapitalisasi pasar harian terbesar sepanjang sejarah perusahaan AS, sementara Apple membukukan penurunan harian terburuk sejak gejolak tarif setelah prospek pendapatan kuartal September mengecewakan pasar.

Di sisi lain, reli AI kembali mendapat dorongan setelah sejumlah perusahaan menunjukkan belanja investasi yang tetap tinggi untuk pengembangan infrastruktur AI. Namun, optimisme tersebut belum mampu sepenuhnya mengangkat pasar karena tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi masih membayangi indeks-indeks utama Wall Street.

Sepanjang Juli, indeks Nasdaq terkoreksi 3,2%, sedangkan Dow Jones Industrial Average masih mampu mencatat kenaikan tipis dan S&P 500 bergerak relatif datar. Pergerakan yang terlihat terbatas pada indeks utama tersebut dinilai menutupi volatilitas yang jauh lebih besar di tingkat sektoral, terutama saham-saham teknologi.

Chief Market Strategist dan Portfolio Manager Crossmark Global Investments Victoria Fernandez mengatakan kondisi pasar saat ini terlihat stabil di permukaan, tetapi di balik itu investor masih menghadapi ketidakpastian yang besar. Menurutnya, pelaku pasar kini semakin selektif dalam menilai prospek perusahaan, khususnya emiten yang menggelontorkan investasi besar untuk AI.

Perbedaan respons investor terlihat jelas dari pergerakan saham perusahaan teknologi besar sepanjang pekan lalu. Saham Amazon melonjak sekitar 15% setelah melaporkan pertumbuhan bisnis komputasi awan (cloud computing) yang semakin cepat, sedangkan Apple anjlok 7,4% karena proyeksi penjualan kuartal berikutnya di bawah ekspektasi Wall Street.

Sehari sebelumnya, saham Meta Platforms juga merosot sekitar 8% setelah perusahaan memperkirakan arus kas bebas (free cash flow) akan berubah negatif pada paruh kedua tahun ini. Sebaliknya, saham Microsoft melesat 16% sehingga menambah kapitalisasi pasar sekitar US$450 miliar atau menjadi kenaikan nilai pasar harian terbesar yang pernah dicatat perusahaan AS.

Fernandez menilai investor kini mulai kehilangan kesabaran terhadap perusahaan teknologi yang menghabiskan ratusan miliar dolar untuk membangun infrastruktur AI tanpa menunjukkan hasil yang nyata. Menurutnya, pasar tidak lagi sekadar memberikan toleransi terhadap janji pertumbuhan, melainkan mulai menuntut bukti konkret atas pengembalian investasi tersebut.

Meski demikian, besarnya belanja AI oleh perusahaan-perusahaan hyperscaler tetap memberikan sentimen positif bagi produsen chip, pemasok memori, dan perusahaan pendukung ekosistem AI lainnya. Indeks PHLX Semiconductor berhasil ditutup menguat tipis pada Jumat, walaupun secara keseluruhan masih melemah sekitar 21% sepanjang Juli.

Volatilitas pasar juga dipicu oleh konferensi pers Ketua The Fed Kevin Warsh usai rapat kebijakan moneter pada Rabu lalu. Setelah bank sentral mempertahankan suku bunga acuannya, Warsh mengisyaratkan bahwa kenaikan suku bunga dalam waktu dekat kemungkinan belum diperlukan karena kenaikan imbal hasil obligasi dinilai telah membantu memperketat kondisi keuangan.

Pernyataan tersebut justru memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham dan obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun melonjak ke level tertinggi dalam 19 tahun, mencerminkan keraguan investor terhadap komitmen The Fed dalam mengendalikan inflasi.

Tekanan di pasar obligasi berlanjut hingga Jumat dengan imbal hasil Treasury tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam 18 bulan. Kenaikan imbal hasil terjadi di hampir seluruh tenor seiring meningkatnya spekulasi bahwa suku bunga acuan masih berpotensi naik dalam waktu dekat.

Warsh juga disebut tengah mempertimbangkan pengurangan frekuensi rapat kebijakan moneter The Fed. Jika terealisasi, langkah tersebut akan menjadi perubahan besar dalam operasional bank sentral sekaligus mengurangi frekuensi momen yang selama ini menjadi fokus utama pasar keuangan.

Kenaikan imbal hasil obligasi yang berkelanjutan berpotensi meningkatkan biaya pendanaan bagi dunia usaha maupun konsumen sehingga dapat memperlambat aktivitas ekonomi dan menekan pasar saham. Risiko tersebut diperparah oleh ketegangan di Timur Tengah yang masih berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi sehingga meningkatkan tekanan inflasi.

Pada pekan ini, perhatian investor akan tertuju pada sejumlah data penting, termasuk laporan ketenagakerjaan AS yang dijadwalkan rilis pada Jumat. Selain itu, pasar juga akan mencermati laporan keuangan sejumlah perusahaan yang berorientasi pada konsumen seperti McDonald’s dan Walt Disney.

Di tengah kekhawatiran terhadap kenaikan imbal hasil dan prospek AI, fundamental laba emiten AS dinilai masih menjadi penopang utama pasar. Pertumbuhan laba agregat perusahaan dalam indeks S&P 500 diperkirakan mencapai sekitar 47%, menjadi yang tertinggi dalam lebih dari lima tahun, sementara analis masih terus merevisi naik proyeksi laba untuk kuartal berikutnya.

Analis Goldman Sachs juga menilai koreksi tajam yang terjadi pada saham-saham memori setelah reli besar sebelumnya merupakan hal yang wajar. Mereka memperkirakan pendapatan Amazon, Alphabet, Meta, dan Microsoft masih akan tumbuh sekitar 18% per tahun dalam dua tahun ke depan seiring tingginya belanja AI.

Co-Chief Investment Officer LVW Advisors Joseph Zappia mengatakan kondisi fundamental pasar sebenarnya masih cukup sehat meski perhatian investor saat ini terlalu terfokus pada narasi AI. Menurutnya, ekonomi AS masih berada dalam fase ekspansi dan belum menunjukkan banyak indikasi bahwa siklus pertumbuhan tersebut telah mencapai titik yang berlebihan.

(fsd/fsd)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Is GESARA and NESARA About to Become a Reality?

Is GESARA and NESARA About to Become a Reality?

March 7, 2026
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

December 18, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Bahlil Buka Suara soal Ekspor Nikel RI Tersendat Akibat LTJ

Bahlil Buka Suara soal Ekspor Nikel RI Tersendat Akibat LTJ

August 3, 2026
OJK Ketemu 100 Investor Global, Pede IHSG Akan Membaik

OJK Ketemu 100 Investor Global, Pede IHSG Akan Membaik

August 3, 2026
PM Thailand Tawarkan Suplai 36 Rantis Amfibi Lapis Baja ke Prabowo

PM Thailand Tawarkan Suplai 36 Rantis Amfibi Lapis Baja ke Prabowo

August 3, 2026
Business Review Asia

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .