Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah kembali ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (7/5/2026).
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda berhasil mengakhiri perdagangan hari ini di zona hijau dengan apresiasi sebesar 0,29% ke level Rp17.330/US$.
Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah sebenarnya sudah bergerak menguat sejak pembukaan. Rupiah sempat dibuka terapresiasi sekitar 0,46% ke level Rp17.300/US$. Namun, penguatan tersebut sedikit berkurang hingga akhir perdagangan.
Di sisi lain, indeks dolar AS atau DXY yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia per pukul 15.00 WIB terpantau terkoreksi sekitar 0,12% ke level 97,901.
Penguatan rupiah sepanjang perdagangan hari ini terjadi di tengah melemahnya dolar AS di pasar global. Tekanan terhadap greenback muncul seiring membaiknya sentimen risiko global setelah pasar merespons positif peluang tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah.
Harapan terhadap meredanya konflik membuat investor kembali lebih berani masuk ke aset berisiko. Kondisi ini mengurangi permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven, sehingga indeks dolar ikut melemah.
Pelaku pasar menyambut prospek kesepakatan damai di Timur Tengah, meski nasib Selat Hormuz masih belum sepenuhnya jelas. Iran disebut tengah meninjau proposal damai yang berpotensi mengakhiri perang, walau sejumlah tuntutan utama AS masih belum terselesaikan.
Dari dalam negeri, sentimen juga datang dari pernyataan Wakil Menteri Keuangan Juda Agung terkait kemungkinan aktivasi bond stabilization fund atau BSF.
BSF merupakan dana khusus yang disiapkan pemerintah untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) yang dilepas investor di pasar sekunder ketika pasar surat utang mengalami tekanan.
Menurut Juda, BSF merupakan bagian dari Bond Stabilization Framework milik Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Namun, aktivasi BSF versi Kementerian Keuangan tidak harus menunggu kondisi krisis. Skema ini dapat digunakan ketika pasar berada dalam level waspada.
“Enggak, kan bukan krisis. Ini kan ada level-levelnya, level normal, level waspada, siaga, krisis. Nah, di level waspada pun kita bisa mengaktivasi,” kata Juda saat ditemui di Bappenas, Kamis (7/5/2026).
Sumber dana BSF berasal dari cadangan fiskal pemerintah, termasuk Saldo Anggaran Lebih (SAL) dan dana cadangan fiskal lainnya yang bisa digunakan saat kondisi pasar tertekan.
“Nggak, kan pemerintah punya ada SAL, ada dana-dana yang memang untuk cadangan fiskal dan sebagainya. Itu bisa digunakan dalam kondisi tertekan,” paparnya.
Meski demikian, Juda menegaskan kondisi pasar saat ini masih normal karena mekanisme pasar masih berjalan baik. Karena itu, BSF belum diaktivasi dalam waktu dekat. Ia juga menyebut implementasi BSF menjadi kewenangan Kementerian Keuangan.
(evw/evw)
Add
as a preferred
source on Google


















