Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Selasa (28/7/2026) setelah pelaku pasar merespons peluang meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan data Refinitiv pada pukul 09.05 WIB, harga Brent berada di US$87,86 per barel, turun 0,57% dibandingkan penutupan sebelumnya di US$88,36 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) turun 0,77% ke US$81,97 per barel dari US$82,61 per barel.
Pelemahan tersebut memperpanjang koreksi harga minyak setelah Brent sempat ditutup di level US$96,78 per barel pada 24 Juli. Dalam dua hari perdagangan terakhir, Brent telah kehilangan hampir 9%, sementara WTI turun lebih dari 8%.
Tekanan terhadap harga datang setelah pasar menilai peluang penyelesaian diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran semakin terbuka. Presiden AS Donald Trump pada Senin mengatakan Washington sedang menjalankan pembicaraan yang “berjalan baik” dengan Teheran. Ia tetap mengingatkan bahwa serangan militer dapat kembali dilakukan apabila negosiasi gagal, sedangkan Iran juga menyampaikan peringatan serupa mengenai kemungkinan aksi balasan.
Harapan terhadap jalur diplomasi meredakan kekhawatiran gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah yang sempat menjadi pendorong utama reli harga dalam beberapa pekan terakhir.
Meski demikian, risiko di kawasan tersebut belum sepenuhnya hilang. Kelompok Houthi di Yaman masih dipandang berpotensi mengganggu pelayaran di Bab el-Mandeb, jalur strategis yang terhubung dengan Laut Merah. Ancaman tersebut muncul ketika arus pelayaran di Selat Hormuz masih jauh dari kondisi normal.
Barclays melaporkan ekspor bersih minyak mentah dan produk olahan melalui Selat Hormuz rata-rata hanya 2,9 juta barel per hari pada pekan yang berakhir 24 Juli. Angka itu merosot hampir separuh dibandingkan 5,9 juta barel per hari pada pekan sebelumnya. Penurunan aktivitas pengiriman tersebut memperlihatkan perusahaan pelayaran dan eksportir masih berhati-hati meski tensi konflik mulai mereda.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak juga tertahan oleh melemahnya permintaan, terutama dari Asia. Sejumlah analis menilai konsumsi energi di kawasan tersebut belum pulih cukup kuat sehingga ruang penguatan harga menjadi terbatas meskipun risiko pasokan masih tinggi.
Pelaku pasar kini menunggu data persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Survei pendahuluan Reuters memperkirakan stok minyak mentah AS turun pada pekan lalu, stok bensin ikut menyusut, sedangkan persediaan distilat diperkirakan meningkat. Data resmi dari Energy Information Administration (EIA) akan menjadi petunjuk baru mengenai keseimbangan pasar minyak global dalam jangka pendek.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Add
as a preferred
source on Google

















